Tuesday, October 22, 2013

Cinta itu Fitrah

"Cinta ini memang fitrah, tapi jangan kita jadikan ia fitnah. 

Sebagai contoh, bila kita sedang berpuasa, kita disuruh agar tidak mendekati makanan kerana boleh jadi ia membawa fitnah yang boleh membawa kita berbuka puasa. 

Maka begitu juga CINTA, rasa suka itu fitrah. Jadi, kita dilarang mendekati maksiat seperti zina hati, dating dan bergayut dengannya di telefon agar fitrah itu tidak menjadi fitnah. Sehari tak bercakap dengan si dia jadi gundah, tapi sehari tak bangun qiamullail, tak pulak rasa begitu. Kalau penyakit ini ada dalam hati kita, hati-hati. Jangan sampai cinta yang kononnya suci ini jatuh martabat menjadi cinta rendah, iaitu bila mana cinta manusia lebih daripada cinta Allah..

"kami tidak akan ucapkan perkataan 'CINTA' kepada mana-mana lelaki ajnabi kerana.. kami simpan perkataan itu untuk diucapkan kepada bakal suami selepas akad nikah" -blog kunfayakun

"Aku menyintaimu kerana DEEN yang ada padamu, jika kau hilangkan deen dalam dirimu, hilanglah cintaku padamu." [Imam Nawawi]

Thursday, October 3, 2013

Kesetiaan, Pengorbanan dan Pengharapan

  • Assalamualikum wtrh semua..., 
    Ada satu cerita benar yang ingin ana kongsikan pada kawan-kawan sekalian... Ana rasa nak kongsikan kisah ni, sebab kisah ni ada kena mengena dengan keadaan ana sekarang(umi dah menghidap sakit kulit ni dah 16 tahun lamanya, dan sekarang sedang sakit teruk).




    Bismillahirrahmanirrahim...
    Seorang isteri menceritakan kisah suaminya pada tahun 1415H, dia berkata :
    Suamiku adalah seorang pemuda yang gagah, semangat, rajin, tampan, berakhlak mulia, taat beragama, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Dia menikahiku pada tahun 1390 H. Aku tinggal bersamanya (di kota Riyadh) di rumah ayahnya sebagaimana tradisi keluarga-keluarga Arab Saudi. Aku takjub dan kagum dengan baktinya kepada kedua orang tuanya. Aku bersyukur dan memuji Allah yang telah menganugerahkan kepadaku suamiku ini. Kamipun dikaruniai seorang puteri setelah setahun pernikahan kami.
    Lalu suamiku pindah kerjaan di daerah timur Arab Saudi. Sehingga ia berangkat kerja selama seminggu (di tempat kerjanya) dan pulang tinggal bersama kami seminggu. Hingga akhirnya setelah 3 tahun, dan puetriku telah berusia 4 tahun… Pada suatu hari iaitu tanggal 9 Ramadhan tahun 1395 H tatkala ia dalam perjalanan dari kota kerjanya menuju rumah kami di Riyadh ia mengalami kecelakaan, mobilnya terbalik. Akibatnya ia dimasukkan ke Rumah Sakit, dia dalam keadaan koma. Setelah itu para dokter spesialis mengabarkan kepada kami bahwasanya ia mengalami kelumpuhan otak. 95 persen organ otaknya telah rusak. Kejadian ini sangatlah menyedihkan kami, terlebih lagi kedua orang tuanya lanjut usia. Dan semakin menambah kesedihanku adalah pertanyaan puetri kami (Asmaa') tentang ayahnya yang sangat ia rindukan kedatangannya. Ayahnya telah berjanji membelikan mainan yang disenanginya…
    Kami sentiasa bergantian menjenguknya di Rumah Sakit, dan dia tetap dalam keadaannya, tidak ada perubahan sama sekali. Setelah lima tahun berlalu, sebagian orang menyarankan kepadaku agar aku cerai darinya melalui pengadilan, kerana suamiku telah mati otaknya, dan tidak boleh diharapkan lagi kesembuhannya. Yang berfatwa demikian sebagian syaikh -aku tidak ingat lagi nama mereka- iaitu bolehnya aku cerai dari suamiku jika memang benar otaknya telah mati. Akan tetapi aku menolaknya, benar-benar aku menolak anjuran tersebut.
    Aku tidak akan cerai darinya selama ia masih ada di atas muka bumi ini. Ia dikuburkan sebagaimana mayat-mayat yang lain atau mereka membiarkannya tetap menjadi suamiku hingga Allah melakukan apa yang Allah kehendaki.
    Akupun memfokuskan konsentrasiku untuk mentarbiyah puteri kecilku. Aku memasukannya ke sekolah tahfiz al-Quran hingga akhirnya iapun menghafal al-Qur'an padahal umurnya kurang dari 10 tahun. Dan aku telah mengabarkannya tentang keadaan ayahnya yang sesungguhnya. Puteriku terkadang menangis tatkala mengingat ayahnya, dan terkadang hanya diam membisu.
    Puetriku adalah seorang yang taat beragama, dia sentiasa solat pada waktunya, ia solat di penghujung malam padahal sejak umurnya belum 7 tahun. Aku memuji Allah yang telah memberi taufiq kepadaku dalam mentarbiyah puteriku, demikian juga neneknya yang sangat sayang dan dekat dengannya, demikian juga kakeknya rahimahullah.
    Puetriku pergi bersamaku untuk menjenguk ayahnya, ia meruqyah ayahnya, dan juga bersedekah untuk kesembuhan ayahnya.
    Pada suatu hari di tahun 1410 H, puteriku berkata kepadaku : Umi biarkanlah aku malam ini tidur bersama ayahku...
    Setelah keraguan menyelimutiku akhirnya akupun mengizinkannya.
    Puteriku bercerita :
    Aku duduk di samping ayah, aku membaca surat Al-Baqarah hingga selesai. Lalu rasa mengantuk pun menguasaiku, akupun tertidur. Aku mendapati seakan-akan ada ketenangan dalam hatiku, akupun bangun dari tidurku lalu aku berwudhu dan solat –sesuai yang Allah tetapkan untukku-.
    Lalu sekali lagi akupun dikuasai oleh rasa mengantuk, sedangkan aku masih di tempat solatku. Seakan-akan ada seseorang yang berkata kepadaku, "Bangunlah…!!, bagaimana engkau tidur sementara Ar-Rohmaan (Allah) terjaga??, bagaimana engkau tidur sementara ini adalah waktu dikabulkannya doa, Allah tidak akan menolak doa seorang hamba di waktu ini??"
    Akupun bangun…seakan-akan aku mengingat sesuatu yang terlupakan…lalu akupun mengangkat kedua tanganku (untuk berdoa), dan aku memandangi ayahku –sementara kedua mataku berlinang air mata-. Aku berkata dalam do'aku, "Yaa Robku, Yaa Hayyu (Yang Maha Hidup)…Yaa 'Adziim (Yang Maha Agung).., Yaa Jabbaar (Yang Maha Kuasa)…, Yaa Kabiir (Yang Maha Besar)…, Yaa Mut'aal (Yang Maha Tinggi)…, Yaa Rohmaan (Yang Maha Pengasih)…, Yaa Rohiim (Yang Maha Penyayang)…, ini adalah ayahku, seorang hamba dari hamba-hambaMu, ia telah ditimpa penderitaan dan kami telah bersabar, kami Memuji Engkau…, kemi beriman dengan keputusan dan ketetapanMu baginya…
    Ya Allah…, sesungguhnya ia berada dibawah kehendakMu dan kasih sayangMu.., Wahai Engkau yang telah menyembuhkan nabi Ayyub dari penderitaannya, dan telah mengembalikan nabi Musa kepada ibunya…Yang telah menyelamatkan Nabi Yuunus dari perut ikan paus, Engkau Yang telah menjadikan api menjadi dingin dan keselamatan bagi Nabi Ibrahim…sembuhkanlah ayahku dari penderitaannya…
    Ya Allah…sesungguhnya mereka telah menyangka bahwasanya ia tidak mungkin lagi sembuh…Ya Allah milikMu-lah kekuasaan dan keagungan, sayangilah ayahku, angkatlah penderitaannya…"
    Lalu rasa mengantukpun menguasaiku, hingga akupun tertidur sebelum subuh.
    Tiba-tiba ada suara lirih menyeru.., "Siapa engkau?, apa yang kau lakukan di sini?". Akupun bangun kerana suara tersebut, lalu aku menengok ke kanan dan ke kiri, namun aku tidak melihat seorangpun. Lalu aku kembali lagi melihat ke kanan dan ke kiri…, ternyata yang bersuara tersebut adalah ayahku…
    Maka akupun tak kuasa menahan diriku, lalu akupun bangun dan memeluknya karena gembira dan bahagia…, sementara ayahku berusaha menjauhkan aku darinya dan beristighfar. Ia barkata, "Ittaqillah…(Takutlah engkau kepada Allah….), engkau tidak halal bagiku…!". Maka aku berkata kepadanya, "Aku ini puetrimu Asmaa'". Maka ayahkupun terdiam. Lalu akupun keluar untuk segera mengabarkan para doktor. Merekapun segera datang, tatkala mereka melihat apa yang terjadi merekapun kehairanan.
    Salah seorang doktor Amerika berkata –dengan bahasa Arab yang tidak fasih- : "Subhaanallahu…". Dokter yang lain dari Mesir berkata, "Maha suci Allah Yang telah menghidupkan kembali tulang belulang yang telah kering…". Sementara ayahku tidak mengetahui apa yang telah terjadi, hingga akhirnya kami mengabarkan kepadanya. Iapun menangis…dan berkata, اللهُ خُيْرًا حًافِظًا وَهُوَ يَتَوَلَّى الصَّالِحِيْنَ Sungguh Allah adalah Penjaga Yang terbaik, dan Dialah yang Melindungi orang-orang sholeh…, demi Allah tidak ada yang kuingat sebelum kecelakaan kecuali sebelum terjadinya kecelakaan aku berniat untuk berhenti melaksanakan solat dhuha, aku tidak tahu apakah aku jadi mengerjakan solat duha atau tidak..??
    Sang isteri berkata : Maka suamiku Abu Asmaa' akhirnya kembali lagi bagi kami sebagaimana biasnya yang aku mengenalinya, sementara usianya hampir 46 tahun. Lalu setelah itu kamipun dianugerahi seorang putera, Alhamdulillah sekarang umurnya sudah mulai masuk tahun kedua. Maha suci Allah Yang telah mengembalikan suamiku setelah 15 tahun…, Yang telah menjaga puterinya…, Yang telah memberi taufiq kepadaku dan menganugerahkan keikhlasan bagiku hingga mampu menjadi isteri yang baik bagi suamiku…meskipun dia dalam keadaan koma…
    Maka janganlah sekali-kali kalian meninggalkan do'a…, sesungguhnya tidak ada yang menolak qadha' kecuali do'a…barangsiapa yang menjaga syari'at Allah maka Allah akan menjaganya.
    Jangan lupa juga untuk berbakti kepada kedua orang tua… dan hendaknya kita ingat bahwasanya di tangan Allah lah pengaturan segala sesuatu…di tanganNya lah segala taqdir, tidak ada seorangpun selainNya yang ikut mengatur…
    Ini adalah kisahku sebagai 'ibroh (pelajaran), semoga Allah menjadikan kisah ini bermanfaat bagi orang-orang yang merasa bahwa seluruh jalan telah tertutup, dan penderitaan telah menyelimutinya, sebab-sebab dan pintu-pintu keselamatan telah tertutup…
    Maka ketuklah pintu langit dengan do'a, dan yakinlah dengan pengabulan Allah….
    Demikianlah….Alhamdulillahi Robbil 'Aaalamiin (SELESAI…)